Teori Kritis Generasi Kedua

 Teori Kritis Generasi Kedua

”Jurgen Habermas”

v  Kritik Modernisme Mazhab Frankfurt

Habermas adalah generasi kedua dari Mazhab Frankfurt, melanjutkan pemikiran kritis dari generasi pertama, yakni Adorno, Horkheimer, serta Marcuse. Generasi pertama telah menelurkan beberapa kritik atas modernisme. Kritik tersebut bila dipilah bisa dibagi menjadi enam garis besar :

1.      Paradigma objektivisme dalam sains. Ilmu apapun dipahami dalam paradigma objektif. Semua diperlakukan sebagai objek. Membaca benda mati dan manusia perlakuannya sama. Manusia diibaratkan sebagai benda pasif. Akhirnya, aktivitas yang bersifat intuitif bahkan hasrat dapat diukur secara kuantitatif. Dalam psikologi misalnya, ada teori yang membagi kedekatan manusia. Umur sekian dekat dengan orang tua, umur sekian dekat dengan teman, umur sekian dekat dengan lawan jenis, umur sekian mulai mengenal jatuh cinta. Sekarang anak SD sudah pada kenal pacaran, berbeda dengan sepuluh tahun lalu. Teori psikologi yang ndakik-ndakik seperti di atas langsung gugur jika dibenturkan dengan realitas demikian. Manusia itu kompleks, tidak bisa disamakan dengan benda mati, itulah yang dikritik oleh generasi pertama Mazhab Frankfurt.

2.      Mandul dalam praksis. Banyak teori yang rumit, tetapi tidak mengubah apa pun. Banyak filsuf hanya menafsirkan, tetapi tidak mengubah kondisi masyarakat menjadi lebih baik.

3.      Tidak emansipatif. Banyak filsuf berteori, tetapi penjajahan tetap ada di mana-mana.

4.      Ilmu untuk ilmu, bebas nilai. Tanpa memikirkan dampak dalam pengembangan sains, sains akan terus dikembangkan atas nama klaim ilmu bebas nilai. Akhirnya, muncul teknologi yang merusak seperti bom atom, atau dinamit.

5.      Melanggengkan kekuasaan yang mapan. Sains yang antipenguasa akan ditekan, seperti terjadi di Barat: jika mengancam kekuasaan, maka dimusnahkan.

6.      Melupakan historisitas ide. Banyak filsuf lupa bahwa tiap gagasan muncul dalam konteksnya. Sebagai contoh, sekulerisme muncul karena dulu Eropa di bawah hegemoni gereja. Marxisme muncul karena ada ketimpangan relasi borjuis-proletar. Tidak ada ide yang lahir dari ruang kosong. Semuanya mempunyai konteks. Ketika konteks berubah, hasilnya juga berbeda.

Keenam kritik di atas menjadi kelemahan peradaban yang kita sebut modern. Jika dunia modern sudah sebegitu parahnya, lantas apa yang bisa dilakukan? Mazhab Frankfurt generasi pertama pesimis. “Kita jadi one dimensional man,” kata Marcuse. Terjebak dalam carut-marut dunia modern.

v  Akhir Mazhab Frankfkurt

Mazhab frankfurt berakhir dengan pesismisme, segalanya sudah tunduk dalam manipulasi total, rasio instrumental. Manusia menjadi one – dimension man. Generasi pertama terjebak oleh kritik mereka sendiri, menganggap semua manusia modern itu sama. Padahal dalam kritik pertama tadi, mereka sudah menjelaskan bahwa manusia itu kompleks. Inilah akar permasalahan mentoknya teori kritis generasi pertama Mazhab Frankfurt. Meski berakhir dengan pesimis, teori kritis tersebut tetap menjadi basis dari teori kritis Habermas. Menjawab pesimisme serta kekeliruan teori kritis generasi pertama, Habermas mengawalinya dengan mengajak kita untuk melihat tipe relasi manusia :

1.      Relasi subjek-objek, yakni relasi manusia dengan dunia objektif. Contohnya, manusia dengan pohon, manusia dengan batu, dan manusia dengan benda lainnya.

2.      Relasi subjek-subjek, yakni relasi dengan dunia sosial yang dilandasi oleh norma, dalam hal ini adalah manusia dengan manusia.

3.      Relasi subjek-itself, hubungan dengan dunia subjektif pemikiran, rasa, dan imajinasi. Contohnya,  membaca diri sendiri, memaafkan, kebencian, dan cinta.

Menurut Habermas, masing-masing relasi memiliki ciri khas berbeda sehingga membutuhkan perlakuan yang berbeda. Atas dasar perbedaan tersebut, Habermas membuat tiga klaster keilmuan dari tiga dunia. Ia juga mengatakan bahwa ilmu tidak bebas nilai, masing-masing memiliki kepentingan :

1.      Ilmu empiris-objektif, diterapkan pada relasi subjek-objek, manusia dengan alam. Kepentingan dalam ilmu empiris-objektif adalah kepentingan teknis, menghasilkan teknologi.

2.      Ilmu historis-hermeneutis, diterapkan pada relasi subjek-itself, manusia dengan dirinya sendiri. Kepentingan ilmu ini untuk melatih pemahaman.

3.      Ilmu sosial-kritis, diterapkan pada relasi subjek-subjek, manusia dengan manusia lain. Kepentingan ilmu ini adalah untuk emansipasi sesama manusia.

Dari premis-premis di atas, Habermas mengkritik cara berpikir manusia modern yang mendewakan rasionalitas. Rasionalitas yang dimaksud adalah rasio instrumental, suatu kondisi di mana rasio dijadikan instrumen atau alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Rasio ini idealnya dipakai manusia ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang bersifat alamiah atau kebendaan. Sebagai contoh, manusia meretas alam untuk dijadikan teknologi. Akan kacau jika cara berpikir rasio instrumental diterapkan pada relasi subjek-subjek. Manusia akan saling memperalat, menyebabkan tidak berubahnya kondisi masyarakat.

Istilah "Modernitas" berasal dari kata sifat modern yang berarti baru, istilah ini memuat dua hal, yaitu : pertama, konsep waktu (linear, teleologis, dan progresif). Kedua, bentuk kesadaran (subjek sebagai pusat dari realitas dan kritik). Sedangkan ciri-ciri mayarakat modern tercirikan atas tiga komponen subsistem. Pertama, subsistem birokrasi negara hukum (kuasa). Kedua, subsistem ekonomi kapitalis (uang). Ketiga, dunia kehidupan sosio kultural/civil society(solidaritas).

v  Demokrasi Deliberatif

Kata deliberatif berasal dari kata Latin deliberatio yang artinya konsultasi, musyawarah, atau menimbang-nimbang. Teori demokrasi deliberatif tidak memfokuskan pandangannya dengan aturan-aturan tertentu yang mengatur warga, tetapi sebuah prosedur yang menghasilkan aturan-aturan itu.  bagaimana keputusan-keputusan politis diambil dan dalam kondisi bagaimanakah aturan-aturan tersebut dihasilkan sedemikian rupa sehingga warga negara mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Demokrasi bersifat deliberatif jika proses pemberian alasan atas suatu rencana kebijakan publik diuji lebih dahulu lewat konsultasi publik atau diskursus publik. Demokrasi deliberatif ingin meningkatkan intensitas partisipasi warga negara dalam proses pembentukan aspirasi dan opini, agar kebijakan-kebijakan dan undang-undang yang dihasilkan oleh pihak yang memerintah semakin mendekati harapan pihak yang diperintah.

v  Ruang Publik

Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif. Ruang publik harus bersifat otonom tanpa intervensi dari pemerintah. Ruang publik merupakan sarana warga berkomunikasi, berdiskusi, berargumen dan menyatakan sikap. Ruang pubik merupakan wadah yang mana warga negara dengan bebas dapat menyatakan sikap dan argumen mereka terhadap negara atau pemerintah. Ruang publik bukan sebuah institusi atau organisasi yang legal. Ruang publik harus bersifat bebas, terbuka, transparan dan tidak ada intervensi pemerintah atau otonom. Ruang publik itu harus mudah diakses semua orang. Dari ruang publik ini dapat terhimpun kekuatan solidaritas masyarakat warga untuk melawan mesin-mesin pasar/kapitalis dan mesin-mesin politik

Comments

Popular posts from this blog

Tips Mencegah Penyebaran Virus Corona

Teori Kritis Mazhab Frankfurt

Penerapan dan Implikasi Teori kritis Dalam Bidang Pendidikan