Para Penghegemoni Teori Kritis
Para Penghegemoni Teori Kritis
v Immanuel Kant
Immanuel Kant hidup pada zaman
scepticism dan banyak membaca karya-karya Voltaire dan Hume hingga ada
'pemberontakan' dalam dirinya. Yang akhirnya jadi mempertanyakan condition of
possibility dari pengetahuan itu sendiri (apa makna dan isi pengetahuan,
bagaimana dasar dari kebenaran pengetahuan). Bagi Kant, manusia tidak akan
pernah memperoleh pengetahuan yang hakiki mengenai sesuatupun. Yang ada adalah
penafsiran kita terhadap sesuatu. Kant tidak mau terjebak pada suatu konsep
kebenaran yang belum dikritisi karena hal itu akan menjadi pengetahuan yang
sifatnya dogmatis. Hal yang penting dari pengetahuan adalah bagaimana melakukan
pengujian, dengan jalan apa dan atas dasar apa rasio mengartikan sebuah
realitas. Rasio kita sendirilah yang menjadi alat untuk menyelidiki
perkara-perkara metafisik. Pengujian fakta empiris harus bebas dari dogmatis
atau prasangka. Pengujian dilakukan dengan melakukan dialektika atau mengambil
titik tengah antara empirisme (berdasarkan pengalaman) dan rasionalisme
(berdasarkan pemikiran).
Kant mencoba menyelesaikan persoalan
di atas. Pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh
oleh empirisme Hume. Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya
karena ia mengetahui bahwa dalam empirisme terkandung skeptisisme. Untuk itu ia
tetap mengakui kebenaran ilmu, dan dengan akal, manusia akan dapat mencapai kebenaran.
Akhirnya, Kant mengakui peranan akal dan pengalaman empiris, kemudian dicobanya
dengan mengadakan sintesis. Menurut Kant, walaupun semua pengetahuan bersumber
pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda
(empirisme). Ibarat burung terbang harus mempunyai sayap (rasio) dan udara
(empiris). Jadi metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia
mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari
adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal. Sehingga akal mengenal
batas-batasnya karena itu aspek irrasionalitas dari kehidupan dapat diterima
kenyataanya.
v Friedrich Hegel
George Wilhelm Friedrich Hegel
adalah seorang filsuf dan idealis Jerman, dia percaya bahwa jiwa adalah
realitas tertinggi. Hegel mengemukakan teori dalam bukunya "Philosophy of
History", yang didasarkan pada kenyataan bahwa negara adalah realitas
progresif dari kesatuan pemikiran dengan nalar. Ia percaya bahwa negara adalah
perwujudan dari kebebasan obyektif dan keinginan subyektif, dan merupakan
organisasi kebebasan yang rasional, jika dibiarkan bertindak, sebenarnya
sewenang-wenang. Dia menggunakan dialektika untuk menjelaskan pandangannya.
Sementara itu, dialektika merupakan konsep yang bertentangan dengan persatuan,
di mana semua proses yang berlangsung selalu berbenturan satu sama lain sebelum
akhirnya mengarah pada persatuan.
Hegel dikenal sebagai filsuf yang
menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel
adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan
tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan
kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empiris indrawi.
Pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari,
spontan, bukan reflektif sehingga terkesan abstrak, umum, statis dan
konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses
pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair. Pengingkaran adalah konsep
pengertian pertama (pengiyaan) dilawan-artikan, sehingga muncul konsep
pengertian kedua yang kosong, formal, tak tentu dan tak terbatas. Menurut
Hegel, dalam konsep kedua, sesungguhnya tersimpan pengertian dari konsep yang
pertama. Konsep pemikiran kedua ini juga diterangkan secara radikal agar
kehilangan ketegasan dan mencair. Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan
menuju kebenaran) maka kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan dan
saling mengevaluasi. Kesatuan kontradiksi menjadi alat untuk melengkapi dua
konsep pengertian yang saling berlawanan agar tercipta konsep baru yang lebih
ideal.
v Karl Marx
Marx merupakan salah satu filsuf
yang sangat berpengaruh pada abad ke-19. Bahkan pemikiran-pemikirannya masih
dijadikan fundamen dasar oleh filsuf-filsuf setelahnya di abad ke-20 dan 21.
Marx berhasil mengonsepsikan pemikirannya sedemikian rupa sehingga pemikirannya
tersebut sesuai dengan konteks sosial masyarakat dan memberikan acuan
epistomologi terhadap perubahan sosial masyarakat melalui gerakan-gerakan yang
revolusioner. Disini saya mencoba untuk mengeksplanasikan dasar-dasar pemikiran
Marx yang akhirnya menjadi fundamen dari sebuah gerakan-gerakan yang
revolusioner.
Pemikiran Marx tentang dialektika
merupakan pemikirannya yang terinspirasi dari pemikirannya Hegel. Hegel
merupakan salah satu filsuf Jerman yang membuat konsepsi tentang dialektika itu
sendiri. Dia menjelaskan bahwa sesuatu yang ada di dunia ini terdiri dari yang
namanya tesis dan antitesis. Tesis dan antitesis ini selalu berbenturan satu
sama lain yang akhirnya membentuk yang namanya sintesis. Sintesis ini lama
kelamaan akan berubah menjadi tesis yang selanjutnya akan muncul lagi yang
namanya antitesis. Begitulah selanjutnya yang akhirnya terus-menerus sampai ada
suatu bentuk yang sempurna. Tetapi perbedaan dasar dari dialektikanya Hegel
dengan dialektikanya Marx adalah dialektikanya Hegel merupakan dialektika
idealis yang hanya ada pada tataran ide seorang Hegel. Sedangkan dialektikanya
Marx merupakan dialektika matrealisme yang menurutnya dapat diterapkan dalam
kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu Marx membagi struktur dan sistem
masyarakat menjadi 2 yaitu kelas borjuis dan proletar yang pada waktu itu
konteksnya adalah sedang memboomingnya industri atau yang lebih dikenal dengan
revolusi industri. Marx melihat bahwa kelas borjuis selalu mengeksploitasi kaum
proletar. Oleh sebab itu, kaum proletar harus dapat memenangi “pertempuran” dan
akhirnya menjadi penguasa menggantikan kaum borjuis. Apabila kaum proletar
menang maka kesejahteraan akan tercapai dan masyarakat tidak akan terkastanisasi
karena semuanya sama sehingga terciptalah masyarakat komunis. Pemikirannya ini
dia tulis di dalam bukunya yang berjudul Manifesto communist. Masyarakat
komunis yang dia maksud di sini adalah masyarakat yang egaliter dan tidak
terkastanisasi yang akhirnya dapat menciptakan kesejahteraan. Pemikiran
dialektikanya ini memunculkan apa yang namanya perjuangan kelas (class
struggle)
v Sigmund Freud
Psikoanalisis Freud dibawa oleh
Erich Fromn setelah 9 tahun Frankfurt School berdiri, dengan menulis buku
berjudul The Development of The Dogma of Christ (1931). Isinya merupakan
perpaduan pertama antara analisis Marx dengan psikoanalisis Freud. Subyek dari psikoanalisis Freud adalah manusia
yang menipu diri tentang dirinya sendiri, karena adanya mekanisme-mekanisme tak
sadar dalam dirinya yang berupa tekanan2 psikis. Dengan menciptakan gambaran
palsu, ilusi, delusi, dan melakukan mekanisme pertahanan diri tetapi
sesungguhnya semua itu hanyalah penipuan diri oleh diri dan penindasan diri
oleh dirinya sendiri. Dengan demikian subyek psikoanalisis Freud berada dalam
situasi ketidakbebasan (sama kaum proletar Marx), hanya pasien Freud
ketidakbebasannya adalah ketidakbebasan psikis. 3 gejala kondisi manusia lari
dari kebebasan:
1.
Manusia
pasrah terhadap kekuatan lain dan tunduk begitu saja (terhegemoni) oleh orang
lain atau sistem baik itu negara ataupun partai, atau manusia berusaha menjadi
kekuasaan sendiri, dengan jalan memaksakan kehendaknya kepada orang lain
2.
Gejala
perusakan diri sendiri misalnya yang paling ekstrim ketika tidak mampu
menguasai dan mengatasi masalah maka manusia lari dengan bunuh diri atau yang
ringan menjadi pencandu alkohol atau ganja
3.
Manusia
lari dengan jalan melakukan imitasi atau penyesuaian dengan kondisi yang sedang
popular. Orang melakukan imitasi kepada teman-teman sekelompok misal ikut
organisasi kiri, memakai baju marxist,dll
Psikoanalisis dapat dipakai untuk
mempertajam kritik Marx terhadap masyarakat modern yang penindasannya bersifat
samar. Psikoanalisis memberikan jalan kebuntuan analisis antara basis bawah dan
bangun atas yang sering dipakai Marx. Marx melakukan kritik terhadap Hegel, ide
adalah penentu kenyataan, sehingga Hegel menyebut yang rasional itu nyata dan
yang nyata itu rasional. Dengan berpatok pada asumsi tersebut maka untuk
melakukan perubahan ide dan kesadaran manusia harus diubah. Menurut Marx,
gagasan akan menjadi kuat dan dapat terjadi dalam dunia, apabila situasi
materialnya mendukung. Kegiatan kesadaran manusia itu mengalir langsung sebagai
akibat kegiatan material, yaitu proses hidup manusia. Ide dalam suatu kelas
pasti akan menguntungkan kelas yang menguasai alat produksi, sehingga teori
yang dibuat kelas penguasa mau tidak mau, sadar tidak sadar pasti akan membela
kelas penguasa. Jadi ideologi berasal dari ide yang telah dianggap benar, meski
tujuan dari penguasa hanya satu yaitu bagaimana melakukan penumpukan kapital
atau materia
Analisis Freud dipakai Marcuse
ketika mengalami kebuntuan untuk memecahkan masalah manusia yang sekarang telah
menjadi satu dimensi. Ketika kaum proletar sudah tidak dipakai sebagai kelompok
pengembang kebebasan, maka yang bisa dilakukan untuk menciptakan perubahan
hanyalah dekonstruksi psikis, untuk membuka tabir kepalsuan. Dalam analisisnya
Freud mengenai id atau prinsip kesenangan ego atau prinsip realitas (organisasi
sosial), menjelaskan bahwa sebenarnya telah terjadi antagonisme atau
kontradiksi antara dua prinsip tersebut. Kondisi yang terjadi menggambarkan
prinsip realitas selalu menekankan dorongan kesenangan, sehingga untuk dapat
hidup sesuai dengan realitas sosial dalam masyarakat individu harus rela
menunda atau menekan kesenangannya. Penundaan akan kesenangan itu kemudian akan
muncul dalam aktivitas yang tak sadar.
Comments
Post a Comment