Pentingnya Meningkatkan Penerimaan Diri bagi Kesehatan Mental Remaja
Pentingnya Meningkatkan Penerimaan Diri bagi
Kesehatan Mental Remaja
Fani Noer Azizah/K849030
Pendidikan Sosiologi
Antropologi
Universitas Sebelas Maret
Penerimaan diri perlu
dimiliki oleh setiap individu.
Penerimaan diri dikatakan penting karena
merupakan dasar untuk kita bisa
menjaga kesehatan mental.
Seringkali ditemukan beberapa kasus gangguan kesehatan mental seperti stres
karena ketidakmampuan dalam menerima kondisi dirinya. Maka, tak mengherankan
jika dimensi penerimaan diri menjadi salah satu dimensi yang sulit dilakukan.
Menerima kondisi diri tidak hanya sekadar menerima kondisi yang baik, seperti
kelebihan diri atau pun hal-hal menyenangkan di dalam hidup. Melainkan, penerimaan diri
juga dilihat dari individu yang mampu menerima kekurangan diri dan juga hal-hal
merugikan yang terjadi di hidupnya. Selain itu, dimensi penerimaan diri juga
menuntut indivisu dapat menerima peristiwa - peristiwa di masa lalu dan masa kini.
Hurlock mendefinisikan penerimaan diri sebagai “The degree to which an individual
having considered his personal characteristics, is able and willing to
live with them” yaitu derajat dimana
seseorang telah mempertimbangkan karakteristik personalnya, merasa mampu serta
bersedia hidup dengan karakteristiknya tersebut. Sedangkan Aderson menyatakan
bahwa penerimaan diri berarti kita telah berhasil menerima kelebihan dan
kekurangan diri apa adanya. Menerima diri berarti kita telah menemukan karakter
diri dan dasar yang membentuk kerendahan hati dan intergritas. Dari
definisi-definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri adalah
derajat dimana seseorang telah mengetahui karakteristik dirinya baik itu
kelebihan maupun kekurangannya dan dapat menerima karakteristik tersebut dalam
kehidupannya sehingga membentuk integritas pribadinya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penerimaan diri yaitu pemahaman diri, harapan yang realistis,
tidak adanya hambatan- hambatan dari lingkungan, tingkah laku sosial
yang mendukung (dukungan
sosial), tidak adanya tekanan emosi yang berat, pengaruh keberhasilan
yang dialami, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, identifikasi dengan
orang yang mempunyai penyesuaian diri yang baik, cara seseorang melihat diri
sendiri (konsep diri), pendidikan yang baik pada masa kanak – kanak.
Individu yang memiliki tingkat penerimaan diri yang rendah cenderung mudah kecewa apabila ada hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan atau harapannya. Ketika menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan, ia cenderung mengeluh dan tidak puas terhadap diri sendiri dan akan selalu membandingkan antara hidupnya dengan orang lain. Maka, tak mengherankan jika timbul keinginan untuk tidak menjalani kehidupan diri sendiri dan ingin menjalani kehidupan orang lain. Ketidakpuasan terhadap hidup membuat seseorang terus mengeluh dan tidak bersyukur. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi stressor dan berujung pada stres. Disisi lain, pada penderita gangguan depresi, terdapat gejala ketidakberhargaan terhadap diri. Hal ini tentunya merupakan akibat dari minimnya penerimaan diri. Kurangnya atau bahkan tidak adanya apresiasi terhadap kondisi dirinya, bahkan untuk menghargai kelebihan yang dimiliki. Umumnya, penderita depresi merasa tidak ada hal yang baik terjadi pada hidup mereka. Hal-hal baik yang telah terjadi dalam kehidupannya kurang bisa di nilai dengan baik. Kesedihan yang sering di alami penderita gangguan depresi berkaitan dengan rasa ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap hal-hal yang terjadi di hidup mereka, baik di masa lalu ataupun masa kini. Oleh karena itu, pengembangan dimensi penerimaan diri menjadi faktor yang krusial untuk meningkatkan rasa keberhargaan diri yang lebih baik dan positif.
Penerimaan diri akan membawa manusia pada pandangan
bahwa setiap manusia pasti berbeda dan mempunyai daya tariknya tersendiri,
serta setiap manusia tidak akan lepas dari kelebihan dan kekurangan pada dirinya,
sebagai suatu anugrah yang harus disyukuri dan diterima tanpa memedulikan
perkataan orang lain. Karena
pada dasarnya tidak ada manusia
yang benar-benar sempurna. Begitupun dengan remaja yang sedang dalam masa peralihan
dari masa kanak
-
Penerimaan
diri dapat dimulai dengan mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi di dalam hidup.
Pada dimensi ini, kemampuan kognitif seseorang untuk berpikir positif menjadi
salah satu jembatan untuk mampu menerima kondisi diri. Seringkali hal-hal yang
tidak sesuai dengan keinginan kita dipandang sebagai suatu kegagalan. Padahal,
dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda dan menyadari bahwa terdapat pelajaran
yang bisa diambil dari kejadian yang merugikan akan membuat diri menjadi lebih
mampu menerima kondisi tersebut. Bersyukur pun menjadi salah satu cara untuk
mampu berpikir positif. Awalnya, pasti akan muncul emosi-emosi negatif seperti
kesal, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya. Menerima emosi negatif tersebut
lalu mensyukuri bahwa dari kejadian yang tidak menyenangkan masih ada hal – hal
yang bisa diambil sebagai pelajaran. Selain itu, bersyukur pun membuat
seseorang menjadi jauh lebih menghargai hal-hal kecil, seperti keluarga yang
lengkap, teman yang baik, pekerjaan yang lancar, dan lain-lain. Merayakan momen
bahagia pun menjadi salah satu cara untuk mengembangkan dimensi penerimaan
diri. Misalnya, dengan merayakan kelulusan, pencapaian karir, atau hal kecil
seperti telah berhasil mengerjakan tugas yang berat.
Sebagai
lingkungan sosial pertama bagi anak, keluarga memberikan pengaruh besar bagi
perkembangan anaknya. Sikap orang tua yang baik untuk perkembangan anaknya
adalah sikap mengerti, mencintai, dan menaruh perhatian pada anak. Orang tua
yang kurang hangat atau menolak anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan
anak. peranan orang tua sangat penting apabila anak yang menerima keamanan dan
kasih sayang yang cukup maka pertumbuhan psikologis positif. Ketika seorang
anak kurang kasih sayang dan tidak aman maka anak akan menjadi tidak nyaman,
agresif, suka menuntut, dan pertumbuhan psikologisnya berkurang. Maka dari itu tingginya rasa penerimaan diri
dianggap sebagai karakteristik mental dan dipercaya dapat mempengaruhi
kesejahteraan diri, jika seseorang mempunyai penerimaan diri yang rendah
sudah pasti dia akan menutup dirinya dari pergaulan luar/sosial. Sehingga
tingginya kecemasan dan depresi akibat penerimaan diri yang rendah mendukung
seseorang untuk membebaskan diri dari kegagalan. Hal ini dapat membuat seseorang tidak mau
Jadi dapat disimpulkam bahwa, penerimaan diri adalah suatu kondisi dan sikap positif individu terhadap diri seperti, menerima segala kelebihan dan kekurangan, mengetahui kemampuan dan kelemahan, tidak menyalahkan diri sendiri sendiri maupun orang lain dan berusaha sebaik mungkin agar dapat berubah menjadi individu yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Oleh karena itu, pengembangan dimensi penerimaan diri menjadi faktor yang krusial untuk meningkatkan rasa keberhargaan diri yang lebih baik dan positif. Hal ini yang membuat penerimaan diri menajadi dimensi yang sangat penting untuk menjaga kesehatan mental khususnya bagi remaja yang sedang berada dalam tahap pertumbuhan dan mencari jati dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Cucu-Ciuhan., Geanina., & Elena., Dumitru,
I. (2017. Unconditional
Self- Acceptance, Functional and Dysfunctional Negative Emotions, and Self-
Esteem as Predictors for Depression in Adolescents: a Brief Pilot Study
Conducted in Romania. Journal of Experiential Psychotherapy, 20 (4), 30 – 38.
Christy., Waney,
N., Kristinawati, W., & Setiawan, A. (2020).
Mindfulness dan Penerimaan Diri
Pada Remaja di Era Digital. Jurnal Ilmiah Psikologi, 22 (2), 73 – 81.
Dwi, Panti,Y. R., & Nur, L. A. (2017). Kecerdasan Emosi dan Dukungan Keluarga dengan Penerimaan
Diri Orang Tua yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal
Psikologi, 30 – 48.
Permatasari, V., & Gamayanti, W. (2016). Gambaran Penerimaan Diri (Self-Acceptance) pada Orang yang Mengalami Skizofrenia. Jurnal Ilmiah
Psikologi, 3 (1), 139 – 152.
Puspita, E. S., & Nuryoto, S. (2002). Penerimaan Diri
pada Lanjut
Usia Ditinjau dari Kematangan Emosi. Jurnal
Psikologi, (2) , 73 – 88
Septiany, F. R. (2019). Konseling Rasional Emotif Perilaku untuk
Meningkatkan Penerimaan Diri pada
Remaja Hamil Diluar Pernikahan. Prophetic: Professional, Empathy and Islamic Counseling Journal, 2 (1), 143-152.
Winarsih, Muji, Evi S. N., & Deasy, O. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga Deangan Penerimaan Diri Orang Tua yang memiliki ABK di SLB Cahaya Pertiwi Kota Bekasi. Jurnal IKRA-ITH Humaniora, 4 (2), 73 – 82.
Putri, P., D., & Husein, M., K. Pengembangan Dimensi Psychological Well-Being Untuk Pengurangan Risiko Gangguan Depresi. Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, 10 (1), 39 – 59.
keren, dan bermanafaat. makasih kak
ReplyDeleteSangat menarik
ReplyDeleteSangat bermanfaat ✨
ReplyDeleteartikelnya sangat bermanfaat kak. makasihhh yaa
ReplyDeleteArtikelnya bagus banget! Sangat bermanfaat! Semangatt
ReplyDeleteSangat bermanfaat 👍
ReplyDeleteArtikelnya bermanfaat kak 🙏🏼
ReplyDelete