Kritik atas positivisme, konsep-konsep yang mempengaruhinya
Tokoh aliran positivisme adalah
August Comte dan sering disebut Bapak Positivisme. Pada abad ke-19 muncul
sebuah pemikiran filosofis yang disebut dengan “Positivisme”. Positivisme
berasal dari kata positif yang berarti faktual atau fakta. Maka, Positivisme
adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan
metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data
empiris. Positivisme merupakan pemahaman yang berakar dari filsafat
emprisme, yaitu paham yang mengatakan bahwa sumber utama pengetahuan adalah
benda-benda yang dapat diindra. Namun keduanya memiliki perbedaan cukup jelas. Empirisme
masih menerima adanya pengalaman subjektif yang bersifat rohani sebagai sumber
pengetahuan, sedangkan positivisme menolak sama sekali. Dalam pandangan
positivisme, benar-tidaknya sebuah pengetahuan tergantung pada objeknya, apakah
objek itu bisa diamati atau tidak, dan bisa diobservasi secara indrawi atau
tidak. Jika tidak bisa diamati, maka itu bukanlah pengetahuan. Sedangkan yang
bisa diamati dianggap benar. Kelebihan Filsafat Positivisme sebagai berikut :
·
Langkah
– langkah metodologis dari ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan dalam
ilmu-ilmu sosial
·
Hasil penelitian dapat dirumuskan dalam
bentuk hukum-hukum seperti dalam ilmu-ilmu alam
·
Ilmu-ilmu sosial harus bersifat teknis,
yaitu menyajikan pengetahuan yang bersifat instrumental murni, netral
dan bebas nilai
Filsafat Positivisme mendapatkan
kritik oleh Frankfurt School (Mazhab Frankfurt) yang juga dikenal dengan teori
kritis. Frankfurt School menolak aliran positivisme karena kaum
positivisme meyakini fenomena alam dan
sosial itu sama dan Baik ilmu alam maupun ilmu sosial harus
menciptakan NOMOS (Nomothetic Science). Padahal
nyatanya Fenomena alam memiliki karakter yang berbeda dengan fenomena kehidupan manusia dan manusia merupakan makhluk yang kompleks. Pada
kenyataannya klaim aliran positivisme akan teori teorinya yang dapat diterapkan
dimanapun (generalisasi) menggunakan
metode empiris tidak terbukti. Jadi yang terjadi sebenarnya generalisasi yang
dimaksud adalah sejenis metafisika diam – diam.
Comments
Post a Comment